Awal yang Buruk di Kamis Siang

Kamis, 4 Sept 2008

Humph, sial broi… gak nyangka bakal kejadian kaya gini. Hari ini aku terlambat masuk kelas Algoritmanya pak Taufik. Hebatnya yang telat bukan cuman aku, tapi hampir semuanya. Mirip kebetulan yang aneh, tapi lebih tepatnya kebodohan berjama’ah karena tak ada satupun yang memastikan apakah dosen sudah masuk apa belum. Pukul 12.30 harusnya kuliah di mulai, tapi molor sampai 12.50 gara-gara kebodohan kami itu. Untung dosennya asik dan gak bikin masalah ini berlarut-larut. “Yah, buat apa juga di bikin masalah besar”, kata pak Taufik,” toh kalian sudah dewasa”. Sumprit, aku kagum dengan dosenku yang memiliki prinsip “hidup jangan di bikin susah”. Itulah awal pertemuan kami yang “mengesankan” dengan pak Taufik.
Awalnya sesaat setelah kami masuk semua, pak Taufik diam lama sekali. Rasanya gak asik banget, karena itu aku merasa bersalah dengan beliau. Setelah diam kurang lebih hampir sepuluh menit, beliau berdiri sembil memegang mic. Beliau mulai berbicara dan menanyakan mengapa kami terlambat. Suasana kelas jadi hening, aku berfikir keras karena rasanya kami tidak mempunyai alasan yang logis dan bisa di pertanggungjawabkan kepada beliau atas keterlambatan kami ini walau banyak terlintas alasan seperti Sholat dan sebagainya. Aku hanya bisa memandang ke arah beliau dengan mulut yang terkunci rapat oleh kebodohanku sendiri.

Sebenarnya saat beliau berbicara, tak terlihat raut muka yang menunjukkan bahwa beliau marah. Sebaliknya, beliau menunjukkan raut muka yang teduh dan kadang terselip senyum. Setelah menunggu tanpa ada jawaban yang logis, beliau lalu mengambil keputusan supaya kami tidak terlambat lebih dari 15 menit. Semula beliau tidak memperbolehkan kami terlambat sama sekali, tapi beliau memaafkan dan aturan berubah. Menurut penuturan beliau kalau saja di awal kuliah ini kami tidak terlambat seperti ini, kita bisa kuliah di kelas beliau tanpa aturan alias bebas masuk sesuka hati.

Satelah lebih dari 15 menit yang menjemuhkan, beliau mulai mengalihkan pembicaraan. Sekarang saatnya perkenalan. seuasana mulai cair karena beliau memng suka bercanda. Hebatnya lagi, seakan beliau sudah melupakan kejadian tadi. Sungguh aku kagum kepada beliau, dengan segala yang dia miliki dan ia tidak miliki. Mengingat kebaikan beliau itu, aku merasa semakin bersalah saja. Mengapa dosen sebaik beliau mengalami kejadian yang sungguh “mengesankan” seperti ini. Kepada pak Taufik, saya minta maaf ya pak. Sori geto loch…
SEMANGAT!!!

Tinggalkan sebuah Komentar